Jumat, 02 Desember 2011



SEDIKIT KISAH DARI SOE HOK GIE

jawaban GIE ketika ditanya kenapa dia melakukan misi pendakian ke G.Semeru

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

sedikit catatan tentangnya

“Saya selalu ingat kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol, pamit, sebelum ke Semeru, begitu penggalan catatan harian Gie, Senin, 8 Desember 1969. Seminggu setelah itu, ia bersama Anton Wiyana, A. Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo berangkat ke Gunung Semeru.

Siapa mengira, itulah terakhir kalinya mereka mendaki bersama Gie. Tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulangtahunnya ke 27 Gie dan Idhan Lubis tewas saat turun dari puncak karena menghirup uap beracun. Herman Lantang yang berada di dekat Gie saat kejadian melihat Gie dan Idhan kejang-kejang, berteriak dan mengamuk. Herman sempat mencoba menolong dengan napas buatan, tapi gagal.

Musibah kematian Gie di puncak Semeru sempat membuat teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke Jakarta. Tiba-tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang. Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!, kata Badil.

Jenasah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24 Desember 1969, dia dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya kena gusur proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman-temannya, memutuskan menumbuk sisa-sisa tulang belulang Gie.

“Serbuknya kami tebar di antara bunga-bunga Edelweiss di lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung seperti patung, kata Rudy Badil.



MANDALAWANGI-PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang - jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang bicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa menawar
"Terimalah dan hadapilah"

Dan antara ransel ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas hutan hutanmu, melampaui batas batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta keberanian hidup

-- Soe Hok Gie
Jakarta, 19 July 1966



#

MEMORIAM

Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tergadah & berkata, kesanalah Soe Hook Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara desember menabur gerimis

Mengenang wafatnya SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS...
16 Desember 1969 - 16 Desember 2009 (Puncak MAHAMERU)

Senin, 30 Mei 2011

100 HARI SETELAH ENGKAU MENINGGALKAN KAMI


100 hari sudah engkau meninggalkan kehidupan dunia yang sesaat ini ,begitu jelas tersimpan dalam ingatanku ketika 100 hari yang lalu aq bersamamu dengan kondisimu yang begitu parah dan aq beruntung bisa disisimu saat ajal menjemputmu ,apakah itu semua memang sudah takdir dari Allah seandainya aq tidak memutuskan untuk menjengukmu mungkin aq tidak disampingmu dan tidak menuntunmu mengucapkan kalam Illahi ,dan semua itu takdir dari yang diatas ,tidak kusangaka ketika dua minggu sebelumnya aq berpamitan denganmu untuk melanjutkan kuliahku yang sudah mulai aktif setelah liburan semester itulah mungkin saat terakhir aq mendengar suaramu,senyumanmu bahkan candaanmu secara langsung dan sekarang semua itu hanya bisa kuingat tanpa bisa aq rasakan langsung ,aq sangat menyayangimu setiap shalatku aq selalu meminta semua yang terbaik buatmu ,dan sekarang hanya doa yang mampu kuhadiahkan untukmu semoga engkau bahagia disana ,abak dengarlah betapa aq sangat mencintai dan menyayangimu kau didik aq menjadi seorang anak laki-laki yang berguna ,kau bebaskan aq untuk memilih pendidikan yang aq inginkan,SATU NASEHATMU yang selalu aq ingat ,APAPUN YANG TELAH KAU PILIH KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS PILIHANMU KARNA ENGKAU LAKI-LAKI ,itu selalu terniang di telingaku kau tidak banyak menuntutku untuk menjadi anak yang mampu dibanggakan ,hanya kau memintaku untuk berbakti kepadamu dan juga amak ,serta menyayangi kalian berdua dan juga menyayangi keluarga dan saudara-saudara yang lain dan beriman kepada Allah S.W.T,begitu jelas aq ingat pesanmu untuk mempelajari tata cara shalat jenazah sehingga ketika kau pergi dari dunia ini engkau ingin anakmu yang menyalatkan dan menyelenggarakan semuanya dan Alhamdulillah itu sudah kami penuhi,abak seandainya kau tahu amak setiap shalatnya dia selalu menangis berdoa untuk kebahagianmu disana ,aq ingin seperti kalian sebuah pasangan yang terpisahkan hanya karena maut,hidupmu yang sederhana dan bekerja sebagai seorang buruh tapi kau mampu menyekolahkan semua anakmu meskipun hanya tamat SMA ,tapi kami semua banyak belajar arti kehidupan darimu ,seorang ayah yang tidak kenal kata menyerah demi kebahagian anak-anaknya,sesorang ayah yang mengajarkan arti sebuah persaudaraan didalam kekeluargaan ,kau didik aku dari kecil dengan keras dan tegas tanpa memandang bahwa aq anak yang paling bungsu bagimu semuanya sama saja ,tidak ada perbedaan perlakuan diantara anak-anak yang lain ,kau mengajarkan kami arti sebuah kesederhanaan,keberanian ,dan keprihatinan terhadap kehidupan .sekarang hanya doa yang mampu aq hadiahkan kepadamu ,aq minta maaf karna sebelum engkau pergi ,aq belum bisa membuat engkau bangga terhadapku ,begitu banyak ilmu yang kau berikan kepadaku dan semoga ilmu itu menjadi amal jariyahmu di sana ,abak bukan hanya kami saja yang merasa kehilangan tapi para tetangga juga merasakan kehilangan ,mereka kehilangan sosok seorang yang ramah dan sering bercanda dan juga sosok seorang yang sangat dihormati ,mungkin disini aq mampu memendam kesedihan itu karna kesibukanku dengan kuliah ,tapi aq tidak tau apakah aq bisa memendam kesedihan itu ketika aq pulang kerumah nanti karna disana tersimpan kenangan kita bertahun-tahun mulai dari aq kecil hingga aq dewasa saat sekarang ini ,abak aq merindukan sosok seorang ayah sepertimu ,dan aq bangga menjadi anakmu .kesedihan karna kehilanganmu aq hanya bisa melampiaskannya dengan mengirimu doa semoga engkau bahagia dan diberikan tempat yang terindah disana .SELAMAT JALAN ABAK terucap kata rindu yang sangat mendalam untukmu ,serta doa yang tidak henti dan tidak putus-putusnya yang kami kirimkan kepadamu mungkin hanya dengan itu aq bisa menjadi anak yang berbakti bagimu ,dan aq akan selalu menjaga ibu meskipun aq jauh disini ,dan aq akan membuat dia menjadi seorang ibu yang bahagia di hari tuanya .